Tiga Mantan Kadis Dikpora Dompu Gagal di Pilkada

 Tiga Mantan Kadis Dikpora Dompu Gagal di Pilkada

DOMPU, MEDIA AMANAT-Perseteruan yang cukup tajam antar kelompok di ajang Pilkada Dompu yang melibatkan semua komponen masyarakat kini telah usai. Meskipun hasil akhir penghitungan suara dari Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) setempat belum dirilis, setidaknya masyarakat sudah menerima hasilnya.

 

Setiap gelaran Pilkada selalu meninggalkan kesan yang kurang nyaman bahkan dapat menciderai pihak lain. Sehingga tidak salah bila sebagian orang beranggapan bahwa politik itu kotor. Tapi di sisi lain juga dianggap menarik. Sebab semua simpul yang sempat terpisah telah kembali pada porosnya ketika hajatan besar di daerah tersebut usai digelar. Setidaknya masih ada pernak-pernik yang menarik di ajang Pilkada untuk sekedar ditilik kembali.

 

Salah satunya yakni gagalnya tiga kandidat Wakil Bupati yang pernah menggawangi Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga (Dikpora) Dompu. Untuk diketahui, sejak pemilihan langsung kepala daerah digelar di Dompu, ada tiga tokoh yang pernah menduduki jabatan selaku Kadis Dikpora ambil bagian dalam ajang suksesi Bupati dan Wakil Bupati. Menariknya lagi, mereka justeru berlaga pada saat masih aktif selaku pembina pada jajaran guru meskipun ada yang cuti dan mengajukan pensiun dini. Mereka itu juga seluruhnya mengambil posisi sebagai kandidat Wakil Bupati.

 

Ketiga tokoh daerah itu yakni, H Nurdin SH yang berlaga pada ajang Pilkada periode 2005-2010. Kemudian Drs H Gaziamansyuri MAP yang mendampingi, H Syaifurrahman Salman pada Pilkada periode 2010-2015. Selanjutnya yang teranyar yakni tampilnya, H Ihtiar SH saat mendampingi, Hj Eri Aryani H Bambang pada Pilkada, 9 Desember lalu.

 

Bisa ditebak, mengapa kandidat bupati saat itu tertarik untuk didampingi Kadis Dikpora. Salah satunya, mereka dianggap punya jaringan yang luas sehingga berdampak pada tingginya elektabilitas yang dianggap mampu mendongkrak dukungan suara. Dukungan itu utamanya bersumber dari kalangan guru yang jumlahnya tidak sedikit.

 

Mungkin saja prediksi itu benar, namun kenyataannya sejauh ini sudah tiga kali keikutsertaan mantan Kadis Dikpora dalam empat kali gelaran Pilkada langsung oleh rakyat sejak orde reformasi, tidak satupun yang berhasil memenangkan pertarungan. Padahal, pasangan mereka selalu menjadi ancaman kuat bagi lawan-lawannya dan dinominasikan bisa keluar sebagai pemenang. Buktinya, pasangan ini berada pada posisi di bawah pemenang Pilkada.

 

Terlepas dari skenario besar Sang Maha Pencipta langit dan bumi beserta isinya ini. Tentu saja gambaran ini tidak boleh dianggap sebuah mitos bahwa kandidat Bupati atau Wakil Bupati atau apapun jabatan publik yang akan diperebutkan pada jabatan tertentu tidak bisa diraih. Karena  semua berpulang pada seberapa kuat usaha mereka untuk meyakinkan masyarakat agar memilihnya. Tentu saja dengan menawarkan visi, misi dan program yang rasional dengan menerapkan taktik yang jitu. Selain itu yang juga tidak kalah penting adalah dukungan finansial yang memadai.

 

Pertanyaannya, masih adakah pejabat pada jabatan strategis ini yang akan mencoba peruntungan masuk dan bertarung pada ajang suksesi Pilkada berikutnya?. Setidaknya akan menjawab rasa penasaran atau untuk mematahkan mitos yang mungkin sudah terbangun.(Muhamad Rifai)

Related post