MISTERI KARO’A PIDU (Bag 2)
Situs makam Sultan Syamsuddin
(Oleh : HR.M. Agoes Soeryanto Dompu)
Syekh Nurdin Dan 3 Ulama Dari Negeri Seberang
La Bata Na`E atau Sultan Syamsuddin merupakan Sultan Dompu pertama sekaligus salah satu Sultan Dompu yang pertama kali memeluk Agama Islam dan selanjutnya Agama Islam saat itu resmi menjadi Agama di wilayah Kesultanan Dompu..
Untuk mendampingi dalam memimpin pemerintahaan di Kesultanan Dompu, Sultan Syamsuddin akhirnya menikah dengan Joharmani saudara kandung Syeh Abdul Salam pada tahun yang sama (1545). Syeh Abdul Salam diangkat oleh Sultan Syamsuddin sebagai Ulama di Istana Kesultanan Dompu. Makam Syekh Abdul Salam terletak di Kampung Raba Laju Kelurahan Potu Kec. Dompu, makam keramat tersebut saat ini oleh Pemerintah telah dijadikan salah satu Situs Purbakala. Bahkan untuk mengenang nama Syekh Abdul Salam,di dekat makam Syekh Abdul Salam terdapat pemakaman umum yang dinamakan oleh warga Dompu yakni `RADE SALA` (Kuburan Abdul Salam).

Kemudian sekitar tahun 1585, datanglah beberapa saudagar/ pedagang sekaligus ulama Islam dari Sumatera yakni bernama Syekh Hasanuddin, Seykh Abdullah dari Makassar dan Sykeh Umar Al Bantani dari Madiun Jawa Timur, dan selanjutnya mereka ini menetap di Dompu untuk membawa Syi’ar Agama Islam.
Kedatangan 3 Ulama dari negeri seberang tersebut rupanya mendapat simpatik yang baik dari sultan Dompu dan masyarakat diwilayah kesultanan Dompu. Untuk membuktikan rasa simpatik dan hormatnya terhadap ketiga orang ulama tersebut akhirnya, Syekh Hasanuddin mendapat kehormatan dari Sultan Syamsuddin untuk menduduki salah satu jabatan yakni QADI (setingkat menteri Agama di kesultanan) dan selanjutnya bergelar WARU KALI. Kemudian Syekh Umar AL Bantani dan Syekh Abdulah dipercaya Sultan Syamsuddin sebagai Imam Masjid di Kesultanan Dompu.
Syekh Hasanuddin yang bertempat tinggal di Kandai I meninggal dunia dan dimakamkan di tempat itu pula. Oleh masyarakat Dompu lokasi atau komplek pemakaman tersebut kini di kenal dengan sebutan MAKAM WARU KALI. Pada masa pemerintahaan Bupati Dompu H.Abubakar Ahmad,SH periode (2000-2005), situs Waru Kali di lakukan penelitian dari tim Arkelogi dan Purbakala yang dipimpin oleh DR.Haris Sukandar dan Dra. Ayu Kusumawati, menyimpulkan bahwa lokasi Waru kali merupakan peninggal bersejarah tinggi di Dompu ribuan tahun yang lalu.
Akhirnya komplek tersebut ditetapakan sebagai salah satu situs peninggalan Purbakala yang bernilai sejarah tinggi. Situs Waru Kali berdekatan dengan Komplek situs Doro Bata di Kelurahan Kandai I Kecamatan Dompu. Menurut cerita di Dana Dompu, Syekh Umar Al Bantani dan Syekh Abdullah membangun sebuah tempat ibadah (Masjid/Mushola) yang berukuran kurang lebih sekitar 4X4 meter tepatnya di dekat perkampungan yang diberi nama Karijawa.
Masjid tersebut konon merupakan satu-satunya Masjid Kesultanan Dompu. Menurut riwayat, bekas tempat bangunan Masjid yang di bangun oleh dua orang ulama terkenal itu kini tempatnya sudah berubah fungsi menjadi komplek kantor Kelurahan Karijawa. Sedangkan Masjid Agung Baiturahman Dompu dahulu kala lokasi tersebut merupakan tempat atau bekas Istana Kesultanan Dompu.(*).
Bersambung……