Mengungkap Misteri di Gunung Tambora (Bag.2)

 Mengungkap Misteri di Gunung Tambora (Bag.2)

DOMPU. MEDIA AMANAT – Setelah menyingkap beberapa hal mistis di gunung Tambora pada edisi pertama, Jumat (21/05/21) lalu, kini Mediaamanat.com kembali mengupas hal ghaib yang ada di pos dua jalur pendakian Pancasila, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu. Cerita ini tentu diambil dari beberapa sumber terpercaya.

Sejumlah pendaki dari Desa Baka Jaya Kecamatan Woja Kabupaten Dompu sedang beristirahat di pos 2

Sebagai gambaran, pos dua letaknya cukup strategis, di sana terdapat sungai, pohon-pohon besar nan rindang, juga telah disediakan satu saung dari pihak pengelola gunung yang bisa digunakan para pendaki untuk berteduh.

Lokasinya berada di cekukan tanah, yang mana untuk ke sana harus lewati turunan, dan untuk menuju pos tiga harus melalui sungai dan tanjakan.

Namun, siapa sangka, di balik letaknya yang strategis, justeru pos tersebut dipercaya sebagai sarang makhluk astral dari dunia lain.

Cerita pertama datang dari seorang pendaki bernama, Izul (21) warga asli Desa Dorebara, Kecamatan Dompu, Kabupaten Dompu yang sudah empat kali berhasil menaklukkan puncak Tambora. Katanya, pada tanjakan setelah sungai tersebut sering terjadi hal-hal ghaib seperti kesurupan.

“Pada tanjakan itu sering terjadi kesurupan. Dalam empat kali saya muncak, dua di antaranya saya jumpai rombongan yang kesurupan pada track tanjak tersebut.” jelas Izul kepada kru Mediaamanat.com.

Penjaga parkir kendaraan pendaki, sekaligus warga kaki gunung Tambora, Komang (47) ikut mengungkapkan, hal ghaib di sana juga sering terjadi pada track sebelum memasuki pos dua. Ia berpendapat, pada lokasi itu, aura mistisnya sangat kuat. Tidak jarang pula para pendaki kesurupan saat melewati jalur tersebut.

“Kebanyakan di sana yang kesurupan itu cewek, dan hampir sering terjadi.” kata lelaki yang familiar di kalangan pendaki Tambora itu.

Selanjutnya, hal ghaib juga dialami, Agus (22) warga Desa Baka Jaya, Kecamatan Woja, Kabupaten Dompu yang mengaku telah 11 kali menakluki puncak Tambora. Katanya, walaupun lokasi yang strategis dan akses air bersih yang mudah, nyatanya pos dua memang jarang dijadikan pilihan para pendaki untuk bermalam, karena memang terkenal dengan aura mistisnya.

Banyak dari pendaki yang memanage waktu agar tidak melewati pos tersebut pada malam hari. Andaipun para pendaki melewati pos dua pada malam hari, mereka lebih memilih untuk terus berjalan dan mendirikan tenda di pos tiga.

“Sekali, karena kondisi anggota tidak memungkinkan, saya dan rombongan terpaksa bermalam di pos dua. Memasuki tengah malam, tenda kami seakan dilempari material berupa pasir. Di antara saung dan pohon kecil, saya dihampiri sosok pocong. Kemudian, pada pohon besar yang ada di kiri atas jalur pendakian itu juga terdapat sosok kuntilanak.” ungkap Agus sembari mengelus merinding.(Mory Setyo Wibowo)

 

Related post