Berbenah, Warga Harap Jembatan Gantung Baka Jaya Dapat Perhatian Pemerintah
Wajah jembatan gantung yang ada di Desa Baka Jaya Kecamatan Woja ini sudah terlihat asri
DOMPU, MEDIA AMANAT-Sejumlah pemuda warga Desa Baka Jaya Kecamatan Woja khususnya Dusun Rasa Na’e tergerak untuk membenahi jembatan gantung yang ada di wilayahnya. Tidak saja ruas jembatan penghubung yang menjadi nadi perekonimian warga yang disentuh perbaikan, mereka juga bahkan menyulap lokasi itu menjadi tempat yang asri dan indah.

Setiap sore, sejumlah warga baik tua maupun muda memanfaatkan lokasi tersebut untuk barsantai sambil berswafoto. Padahal dulunya lokasi itu terkenal angker dan sangat kotor dengan aroma menyengat akibat dijadikan tempat pembuangan sampah oleh warga sekitar.
Menurut salah seorang tokoh pemuda setempat, Tolkhaerun yang juga mengisisiasi pembenahan jembatan yang memiliki bentangan lebih dari 50 meter tersebut, upaya mereka mendapat dukungan luas dari sejumlah warga. Bahkan lanjutnya, selain adanya dana yang bersumber dari Kades Nowa, Kurais Abakar, juga sumbangan warga lainnya. Baik yang mereka datangi ke rumahnya atau warga yang lewat di jembatan yang dibangun awal tahun 200 itu.
“Dana yang terkumpul sudah lumayan banyak. Bahkan tidak jarang orang yang lewat di jembatan ikut menyumbang saat kami sedang bererja,” kata pria yang biasa disapa Tolha ini sembari mengungkapkan dana tersebut telah mereka gunakan sebagain besar untuk penggantian material badan jembatan seperti balok kayu, baut dan mur, serta pengecetan.
Katanya, para pemuda masih terus melakukan pembanahan terhadap areal jembatan agar memberi keasrian dan kenyamanan warga baik yang memanfaatkan tempat itu maupun yang melewatinya.
Selain itu ia berharap adanya dukungan dan perhatian pemerintah terhadap upaya yang mereka lakukan. Bila perlu jembatan gantung tersebut segera diganti dengan membangun jembatan permanen. Sehingga mobilitas masyarakat akan menjadi lancar, terutama untuk mengangkut hasil pertanian.
Untuk diketahui, jembatan gantung ini awalnya dibangun secara swadaya sekitar tahun 1985 dengan memanfaatkan sumber daya lokal seperti pohon bakau sebagai tiang penyangga dan bambu untuk lantainya. Namun saat, H Abubakar Ahmad SH atau Ompu Beko menjadi Bupati Dompu, barulah material utamanya menggunakan besi. Seperti tiang pancang serta besi dan kawat yang membentang dari masing-masing ujungnya.
Pada saat kepemimpinan pria yang juga lahir di Desa Baka Jaya itu sebenarnya sudah ada rencana untuk mengganti dengan membangun jembatan permanen, namun niatan itu tidak terealisasi sampai sekarang.(tyo)