Yani Malhendo Siap Pulang Kampung Majukan Tinju di NTB
Yani Malhendo. Mantan uara dunia tinju WBC dan IBF asal Sila-Bima-NTB
DOMPU, MEDIAAMANAT,COM-Nama Yani Mahendo tidak asing bagi penggemar olah raga tinju di Indonesia bahkan dunia. Pasalnnya pria kelahiran Desa Rato Kabupaten Bima 55 tahun silam itu merupakan satu-satunya petinju asal NTB yang pernah menjadi juara dunia tinju profesional. Setidaknya tiga sabuk juara pada kelas Terbang Yunior versi IBF dan WBC Internasional pernah disandang oleh pria kalem yang kini bermukim di Surabaya-Jatim ini.
Rupanya sejak lama ia bercita-cita agar dunia yang membesarkan namanya bisa dirasakan oleh penerusnya yang ada di Bima dan Dompu serta NTB umumnya. Namun keinginannya itu tidak kunjung terwujud akibat tak adanya dukungan yang diberikan oleh pemerintah setempat. Bahkan ia pernah menawarkan diri pada Pemkab Bima agar menyiapkan anggaran pembinaan hinga ia berjanji untuk mengorbitkan petinju di daerah ke level internasional seperti yang ia rasakan.
“Saya sudah tawarkan pada Pemkab Bima untuk menyiapkan anggaran. Dan saya akan orbitkan petinju hingga level tertinggi. Tapi pemerintah tidak mengerti tinju,” sesal Yani yang dihubungi langsung Mediaamanat.com via ponselnya, Sabtu (14/01/23).
Menurut pria yang bernaung di sasana Pirih Surabaya dan saat ini sedang menyiapkan atlet tinju Jatim menuju PON tersebut, pemerintah hanya diminta menyiapkan anggaran untuk penyediaan sarana tinju yang memadai seperti sasana serta digunakan untuk mengadakan kompetisi rutin. Dengan sistem itu, lanjutnya, dunia tinju di NTB akan maju dan dapat melahirkan petinju potensial yang bisa berlaga hingga level internasional. Sebab menurutnya, bibit petinju di daerah sangat banyak dan berpotensi untuk berkiprah ke level tertinggi bila dilatih dengan baik.
“Yang penting ada dana dan dilakukan kompetisi rutin, pasti akan lahir petinju potensial. Dan saya siap pulang kampung untuk membina bibit petinju di daerah saya,” tegas Yani Malhendo.
Petinju yang berjaya pada era 80an hingga 90an tersebut begitu serius ingin membina petinju di daerah bila ada dukungan pendanaan yang memadai dari pemerintah. Tapi ia sangat kecewa hingga tetap merantau ke Surabaya memajukan tinju di daerah orang.
“Untuk apa saya merantau ke daerah orang bila ada perhatian pemerintah di NTB,” tandas Yani yang mengaku selama menjadi petinju hingga mendapatkan juara tingkat internasional dengan dana pribadi.
Untuk diketahui, Yani Malhendo menekuni dunia tinju sejak SMA. Bahkan setamat SMA ia kemudian berlatih serius dan hijrah ke Surabaya bergabung dengan sasana Pirih hingga meraih juara nasional dan internasional. Tiga sabuk juara dunia pada kelas Terbang versi IBF dan WBC Internasional berhasil disandangnya. Ia bahkan nyaris adu jotos di atas ring dengan, Manny Packuiao di Filippina, 24 Oktober 1996. Bahkan seluruh proses pertandingan dinyatakan siap hingga sudah dilakukan timbang badan. Namun beberapa jam sebelum bertanding, menejer Manny Packuiao berdalih anak buahnya tidak bisa naik ring akibat diare. Menurut rekan Yani Malhendo, Sikkat Pasaribu, saat itu terjadi protes yang sangat alot, dan akhirnya pelaksana pertandingan di Filippina menaikkan bayaran hingga dua kali lipat untuk Yani agar bersedia bertarung dengan petinju pengganti. Petinju penggati sang ‘Pack Man’ tersebut akhirnya dipukul KO oleh Yani Malhendo pada ronde kedua. (Muhamad Rifai)