Mengenang Bimeks yang Terpaksa Tergerus Jaman
Saat ini mestinya harian Bimeks atau BimaEkspres akan merayakan usia yang ke-23 tahun. Namun momen itu hanya menjadi harapan yang tidak kesampaian. Pasalnya, media massa yang lahir setelah runtuhnya kekuasaan Orde Baru (Orba) menuju era reformasi itu tidak lagi mampu mengakselerasi lompatan arus teknologi yang kian pesat saat ini.
Dulu, menyebut Bimeks atau BimaEkkspres, tentu saja orang akan langsung teringat pada sebuah media massa yang terbit dan menjadi acuan informasi bagi masyarakat Bima dan Dompu. Sebabnya, koran dalam ukuran kecil yang terbit perdana pertengahan tahun 2000 silam ini setidaknya menjadi inspirasi dan pioneer berdirinya sejumlah media massa di Bima. Bahkan merekrut dan menggembleng sejumlah pewarta yang kemudian sebagiannya mandiri dan membangun media sendiri.
Salah satunya adalah penulis yang tidak pernah bermimpi menggeluti profesi sebagai seorang jurnalis. Kami justru terlahir dan menjadi bagian yang nyaris bersamaan dengan munculnya Bimeks di Bima kala itu. Adalah seorang Junaidin M Ali SSos yang tidak lain merupakan adik dari owner sekaligus Pimpinan Redaksi Bimeks saat itu, Ir Khaerudin M Ali MAp yang mengajak untuk menggeluti dunia yang katanya menentukan hitam putihnya dunia.
Berangkat dari nol dan hanya mengandalkan kegemaran membaca koran, kami dipercaya menjadi Biro di Dompu. Tidak butuh waktu lama, dengan belajar otodidak mengumpulkan data dan informasi yang kemudian dikemas menjadi sebuah berita, kami bisa beradaptasi dengan pola kerja Bimeks yang mewajibkan wartawannya untuk mengirim minimal dua berita setiap hari.
Terbayang bagaimana awal perjuangan kami yang saat itu menulis berita masih mengandalkan mesin ketik. Setelah itu kami masih harus tergopoh-gopoh mendatangi wartel untuk kemudian mengirim berita agar segera sampai di kantor redaksi sebelum deadline menggunakan jasa mesin faximili. Enam tahun bersama media cabe rawit ini membuat kami matang dan tahan banting. Hingga akhirnya membuat kami malang melintang dengan menggawangi sejumlah koran harian lokal di NTB yang sampai pada akhirnya membangun perusahaan media massa sendiri.
Kembali pada nama besar Bimeks. Koran yang tumbuh pasca runtuhnya rezim orde baru ini selain menginspirasi tumbuhnya media massa di daerah, juga telah mencetak sejumlah wartawan handal. Juga tidak sedikit dari mereka yang justru mengawali karirnya di Bimeks telah merambah profesi mentereng, seperti ASN hingga anggota legislatif. Malahan ada yang berkesempatan menunaikan ibadah haji dalam program khusus dengan nama besar Bimeks.
Setidaknya sebelum era digital, Bimeks adalah media massa yang sehat dan satu-satunya media lokal di pulau Sumbawa yang dikelola secara profesional. Buktinya, semua karyawan digaji secara layak dan teratur, serta diikutkan dalam program asuransi.
Saking sehatnya, koran yang terbit dalam ukuran mini ini juga justeru menjadi penopang usaha dalam Grup Bimeks seperti membangun stasion TV swasta (Bima TV) dan Radio Amatir yang terus dirambah dalam menyongsong lompatan teknologi informasi. Bertahun-tahun Bimeks mampu menopang perusahaan yang terus dikembangkan sang owner di tengah ancaman tergerus jaman. Awalnya usaha itu masih bisa bertahan. Namun akibat persaingan bisnis media massa yang semakin ketat dan dipengaruhi perubahan kebijakan pemerintah yang kurang optimal dalam mendukung media cetak hingga berdampak pada oplah yang kian menyusut, memaksa pihak manejemen memutar otak.
Agar tetap survive dengan membawa misi yang cukup berat, akhirnya Bimeks merubah manejemen dengan terbit tiga kali dalam sepekan. Setidaknya pola itu mampu memberi nafas agar bisa bertahan hidup.
Namun dengan perubahan pola, setidaknya tergambar bahwa perusahaan yang tadinya menjadi ‘raja’ di wilayahnya itu sudah mulai oleng dan terancam suatu waktu akan berhenti beroperasi. Benar saja, awal Februari 2022 ini nama besar itu tinggal kenangan setelah sang owner yang juga merupakan mantan wartawan Lombok Pos ini mengumumkannya secara resmi via akun FB-nya.
Tentunya banyak pihak yang prihatin atas keputusan berat ini. Apapun itu, ini adalah keputusan yang cukup realistis di era digital seperti sekarang. Seleksi alam akhirnya harus diterima Bimeks. Di mana media konvensional pasti akan tergerus media jenis baru yang kini tumbuh dan memanfaatkan perkembangan sistem digitalisasi yang sangat pesat. Di negara maju saja, sejumlah koran dan majalah yang puluhan bahkan ratusan tahun merajai industri media massa dikabarkan telah lama terimbas dan beralih cara mengikuti perkembangan jaman dengan menjajal media online. Bahkan sejumlah media mainstream yang masih berupaya bertahan hidup saat ini diprediksi akan menemui ‘ajal’ secara tragis dalam waktu yang tidak lama lagi.
Apa pun itu, Bimeks telah tercatat dalam sejarah besar di Bima, Dompu, NTB bahkan dalam skup nasional sebagai salah satu pelopor tumbuhnya perusahaan media cetak yang sehat dan menjadi referensi informasi yang aktual dan faktual bagi masyarakat dan pemerintah. Meski Bimeks telah benar-benar terhenti kegiatannya, namun untuk pembaca setianya, pihak manejemen fokus pada media online dengan bendera Bimakini.com yang memang telah disiapkan untuk menyongsong lompatan perkembangan teknologi infomasi yang kian pesat saat ini.
Oleh : Muhamad Rifai
(Mantan Wartawan Bimeks Biro Dompu dan kini sebagai pengelola, mediaamanat.com dan Koran Amanat).