Kisah Mistis di Ujung Jembatan Gantung Baka Jaya

 Kisah Mistis di Ujung Jembatan Gantung Baka Jaya

jembatan gantung Desa Baka Jaya Kecamatan Woja

DOMPU, MEDIA AMANAT-Masyarakat Desa Baka Jaya Kecamatan Woja Kabupaten Dompu punya cerita tersendiri dengan lokasi yang dihubungkan oleh jembatan gantung ini.

 

Jembatan ini merupakan akses yang selalu digunakan masyarakat setempat bila hendak ke sawah dan kebun yang dipisahkan oleh sungai tepat di bawahnya. Sungai tersebut dulunya merupakan lokasi untuk Mandi Cuci dan Kakus (MCK) bagi warga setempat. Sekarangpun masih ada yang memanfaatkan tempat itu untuk MCK meskipun tidak seramai dulu. Tempat mandi pria berada di bagian atas, sementara untuk wanita di bagian bawah yang dipisahkan oleh susunan batu cadas.

 

Sebelum dibangunnya jembatan gantung tahun 80-an silam, masyarakat setempat memang mengadalkan ruas jalan itu untuk menuju sawah. Tidak perduli meskipun dalam kondisi banjir yang kedalamannya bisa mencapai beberapa meter. Itu sebabnya warga kampung itu baik laki maupun perempuan rata-rata mahir berenang.

 

Namun di balik semua itu ada cerita mistis yang selalu dikisahkan turun temurun. Di mana di ujung selatan dan utara jembatan ada rumpun bambu lebat yang diyakini tempat tinggal mahluk gaib. Bahkan kadang-kadang mahluk tak kasat mata itu membuat ulah dengan melempar siapa saja yang lewat menggunakan pasir bahkan menampakkan diri mengganggu warga yang lalu lalang di lokasi itu. Keangkeran lokasi itu sering dikaitkan dengan beberapa kali terjadi peristiwa tragis meninggalnya warga akibat tenggelam dan hanyut terseret air.

 

Persitiwa ini justeru semakin menambah seram lokasi yang memang diyakini ada mahluk lain yang menempatinya. Tidak sedikit warga sekitar yang sempat bertemu dengan mahluk penunggu lokasi itu. Bahkan salah seorang tokoh masyarakat setempat mengaku dipepet oleh mahluk yang mirip manusia saat pulang dari sawahnya ketika menjelang mahgrib. Namun ia tidak mengenal sosok tersebut sebab saat mendekat mahluk itu terus membelakanginya.

 

Merasa ada yang mengganggu, tokoh panutan desa setempat yang sudah belasan tahun meninggal dunia itu sempat mengayunkan parang pada mahluk aneh tersebut. Namun sesaat kemudian ia menghilang tanpa jejak.

 

Cerita serupa di tempat itu setidaknya dialami oleh banyak warga setempat. Sehingga mereka jarang yang melakukan aktifitas di malam hari. Jika terpaksa, mereka tidak berani melakukannya seorang diri. Apa lagi tempat itu dulunya jauh dari pemukiman penduduk.

 

Namun dengan semakin bertambahnya populasi warga, cerita seram lokasi itu semakin terkikis oleh waktu. Terlebih lagi wilayah itu tidak menunjukkan keangkeran seperti dulu lagi, karena sudah banyak rumah warga yang dibangun di sekitar lokasi. Selain itu, tempat itu selalu ramai menjadi perlintasan baik siang maupun malam hari.(*/mr)

Related post